Jakarta, CNBC Indonesia – Ternyata Bali jadi salah satu lokasi tujuan libur Lebaran 2024 dan bakal ramai dikunjungi wisatawan. Kalangan pengusaha hotel di Bali mengungkapkan, saat ini menjadi momen terbaik setelah dihajar pandemi┬áCovid-19, okupansi pun sudah mulai naik ke atas rata-rata.

“Sebenarnya ada 3 momen high season di Bali yaitu Juli-September, lalu peak season di antara Natal dan Tahun Baru, kemudian Paskah kira-kira April itu juga tinggi seperti sekarang, apalagi ditambah momen Lebaran,” kata CEO OXO Group Indonesia Johannes Weissenbaeck kepada CNBC Indonesia, Rabu (3/4/2024).

Adapun rata-rata normal okupansi hotel di Bali sekitar 67%, namun saat ini sudah. melebihi itu. Turis yang datang bukan hanya dari lokal, namun juga wisatawan mancanegara.

“Okupansi untuk kita bagus sekali 82%, rata-rata di Bali 67% seperti hotel. Kalau di atas 70% udah bagus kita punya villa di Berawa bulan ini sampai 97% setiap hari full, tapi ngga semua, ada yang bagus performanya,” kata Johannes.

Uniknya, pengelola hotel seolah menghindari agar okupansi tak sampai 100%, demi menghindari kepadatan. Salah satu strateginya, pengelola memilih menaikkan tarif ketika high season seperti saat ini alih-alih mengincar uang dari memaksimalkan okupansi.

“Kalau okupansi 70% cukup dengan harga tinggi. Kalau mau turunin okupansi ya dengan naikin harga ke klien. Lebih bagus okupansi 70% tapi harga stabil dibanding harga lebih murah tapi terlalu padat. Jadi kita ngga turunkan harga,” sebut Johannes.

Hotel maupun vila di Bali juga banyak yang menerapkan beberapa sistem sewa untuk wisatawan, termasuk bagi kebanyakan wisatawan mancanegara yang berniat lama tinggal di Bali, baik untuk liburan maupun bekerja. Biaya sewa wisatawan untuk tinggal di hotel maupun vila di Bali pun terbilang fantastis.

“Misal ada vila di Canggu sewa 2 bedroom Rp 85 juta tiap bulan, long term dia ambil 6 bulan, jadi tiap bulan 85 juta cuma dibagi 30 hampir 3 juta per hari,” kata Johannes.

Sementara di peak season harga hotel lebih melambung tinggi sehingga pengelola enggan untuk menyewakan secara bulanan atau tahunan. Namun harganya bisa naik dua kali lipat bahkan lebih.

“Semalam bisa Rp 6-7 juta sehari tergantung vila dan lokasi. High season biasanya menerapkan sistem daily atau harian tapi tergantung manajemen. Biasanya manajemen ada yang fokus short term atau fokus long term, tapi ada perusahaan khusus long term rental yearly atau monthly,” sebutnya.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Orang RI Makin Gemar Jalan-jalan, Tapi Bali Bukan Favorit


(dce)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *