Jakarta, CNBC Indonesia – Konflik antara Iran dan Israel memicu kekhawatiran bagi pengusaha di dalam negeri. Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S Lukman, mengungkapkan ketegangan tersebut berpengaruh luar biasa kepada logistik industri, khususnya industri makanan dan minuman (mamin).

“Kita banyak sekali bahan baku yang harus kita impor dan tentu akan berpengaruh terhadap harga pokok produksi kita. Meskipun kita ada ekspor juga. Kalau industri mamin total ekspor kita sekitar US$ 11 miliar. Impor kita cukup banyak untuk bahan baku. Ini yang sangat berat. Belum biaya logistik meningkat. Tadi kita bicara dengan asosiasi terigu juga mereka katakan akan mengganggu logistik sehingga dikhawatirkan akan ada peningkatan biaya. Ini yang harus kita antisipasi,” katanya di kantor Kemenperin, Selasa kemarin (16/4/2024).

Kondisi ini mirip dengan situasi perangan antara Russia-Ukraina, namun belum diketahui dampaknya bakal bertahan berapa lama. Kalau ini cukup lama tentunya akan sangat mengganggu. Adhi menyebut dari laporan FAO saja, sebelum serangan Iran ke Israel saja sudah ada peningkatan 1% harga pangan dunia dibandingkan bulan Februari.

“Terutama biji-bijian, beberapa produk dairy, susu dan daging-dagingan dan sebagainya, ini yang harus kita antisipasi. Bagi industri kita harus terus berupaya mencari alternatif. Jangan sampai gangguan dari logistik akan mengganggu bahan baku,” sebut Adhi.

Karena itu perlu adanya antisipasi terhadap ketidakpastian, sehingga perlu kekompakan antara dunia usaha dan pemerintah khususnya dalam bahan baku.

“Alternatifnya ada di belahan Utara sama belahan selatan kayak Amerika Latin. Kayak kasus Rusia-Ukraina juga dari belahan selatan juga cukup membantu ya. Dari Australia juga. Kita berharap ini ada alternatif itu. Di selatan relatif aman dari sisi logistik. Sebenarnya dari timur Tengah ga banyak impor cuma dampak logistiknya karena melalui terusan Suez.

Pengusaha berharap pemerintah bisa segera mengantisipasi, termasuk nilai tukar rupiah supaya stabil agar tidak terlalu berat. Seperti diketahui, sejak kemarin usai libur panjang lebaran, dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguuat menghantam rupiah. Dolar AS menembus Rp 16.000, dan hari ini bahkan menyentuh level Rp 16.200.

“Kalau ini terus dibiarkan mungkin bisa meningkat karena ketidakpastian. Apalagi saya dengar juga capital outflow meningkat ke AS. Nilai suku bunga juga tinggi di sana. Kita juga harus mengantisipasi,” kata Adhi.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Sri Mulyani Ungkap Masalah Besar, Banyak yang Gak Sadar!


(wed/wed)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *